Cara Memilah Sampah – Jawaban dari pengganti Plastik sampah

Cara Memilah Sampah – Jawaban dari pengganti Plastik sampah

Masalah sampah di dunia adalah masalah urgent yang seolah tidak ada ujungnya. Alasannya simple: karena sampah adalah sesuatu yang selalu diproduksi oleh semua orang di dunia ini, setiap detik, setiap menit. Bagi mereka membuang sampah di tempat sampah adalah akhir dari permasalah mereka. Tapi sebetulnya adalah awal dari permasalahan sampah di dunia. Masih banyak yang belum sadar akan dampak buruk sampah pada kesehatan dan pada lingkungan.

Kita membuatnya. Kita bergantung padanya. Kita tenggelam di dalamnya – Nat Geo Indonesia

Fact: Separuh plastik yang ada di dunia ini diproduksi dalam 15 tahun terakhir (Source: Nat Geo Indonesia). Namun hari ini sekitar 8 juta ton plastik mencemari laut setiap tahun. Hal terbaik yang bisa kita bisa lakukan adalah menghindari plastik sekali pakai. Say No to Single Use Plastic. Kurangi sampah dengan cara berefleksi kebutuhan, menolak atau mencari alternatif pilihan lain. Kemudian sisa sampah yang masih dibuat bisa kita olah dan pisahkan.

Zero waste memang berarti harfiah nol sampah, tapi dalam kenyataannya tidak ada seorang pun yang membuat nol sampah. Sampah-sampah yang masih diproduksi dan dibuang ini yang akan kita bahas di artikel ini secara lebih lanjut. Kami mendapat sekali banyak pertanyaan di instagram, bagaimana dengan plastik yang biasa digunakan sebagai alas tempat sampah? Bagaimana cara membuang sampah yang benar? Bagaimana mengolahnya?

Sebelum memulai, saya pengen cerita soal permasalah di TPA dan mengapa sebisa mungkin kita mengurangi, memisah, mengolah, dan mengumpulkan dengan benar dari sisi kita sehingga tidak terlalu banyak mengirim sampah ke TPA.

Dengan keterbatasan dan makin bertambahnya jumlah penduduk, diperkirakan hanya sekitar 60% sampah-sampah di kota besar di Indonesia yang dapat terangkut ke TPA. Banyaknya sampah yang tidak terangkut dan tidak terlayani berakhir pada pembakaran sampah oleh penduduk atau parahnya lagi pembuangan secara sembarangan ke dalam sungai. Saat ini andalan utama dalam penyelesaian pengelolaan sampah di Indonesia adalah pemusnahan dengan penimbunan pada TPA. Direktur Pengelolaan Sampah KLHK, R. Sudirman mengatakan sebagian besar tempat pembuangan akhir (TPA) di Indonesia masih dioperasikan secara open dumping yang cenderung mencemari lingkungan (Source: Ironi Permasalahan Sampah di Indonesia). Padahal, jika dikelola dengan baik bisa menghasilkan nilai ekonomis. Salah satu alasannya juga karena sampah yang didump tercampur semuanya dan tidak dipilah dengan baik dari awal. Pembuangan sampah yang tercampur dapat merusak dan mengurangi nilai material yang mungkin masih bisa dimanfaatkan dari sampah-sampah tersebut.

Image result for kondisi tpa di indonesia
TPA Banjaran overload – Source: Republika.id

Apa yang kita bisa lakukan dengan sampah yang masih kita buat?

Nah sebetulnya hal ini berkaitan dengan sudah tidaknya kita memilah sampah dengan benar.

Organik (atau sampah basah): Sampah ini terdiri dari bahan-bahan yang bisa terurai secara alamiah/biologis dan terdiri menjadi 2 yaitu:

  • Hijau (sisa dari sayuran hijau, nasi, kulit sayuran, buah-buahan dan lainnya)
  • Hewani (tulang ikan, ayam, daging, kulit hewan, telur, seafood)

Sampah organik ini bisa dibuat menjadi eco enzyme (untuk veggie dan buah) , veggie stock (untuk sisa-sisa sayur), kompos, dan biopori.

IMG_6029
Ecoenzyme (source: enzymesos)
Ecoenzyme (source: enzymesos)
Ecoenzyme (source: enzymesos)

Anorganik (atau sampah kering): Sampah ini terdiri dari bahan-bahan yang sulit terurai secara biologis dan proses penghancurannya membutuhkan penanganan di tempat khusus. Contoh dari sampah ini adalah gelas, kaleng, koran, majalah, plastik, kardus, dll. Yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut

  • DIY upcycle atau repurpose
  • Ecobrick
  • Diberikan ke Bank Sampah (Contoh, koran, majalah, karton, kardus, kantong plastik, styrofoam)

Untuk berkelanjutan, baiknya sampah-sampah ini kemudian dipilah lagi saat akan diproses atau diberikan, disendirikan berdasarkan bahannya (Gelas, paper, plastik, dll)

Sampah B3 (Bahan berbahaya dan beracun): Sampah jenis ini merupakan limbah dari bahan-bahan berbahaya dan beracun, misalnya limbah rumah sakit, limbah pabrik, dan lain-lain. Termasuk Elektronik. Sendirikan di wadah dan cari pembuangan khusus untuk membuang ini. Sampah Elektronik bisa dibuang di drop point ewasterj.

Source: Instagram @ewasterj

Selain di atas ada tambahan lain yaitu

Minyak jelantah

Jangan pernah menuangkan minyak ke saluran pembuangan dapur. Minyak sisa yang dibuang di wastafel dapat menyumbat pipa saluran air. Dalam kondisi yang lebih buruk, pembuangan minyak sisa di wastafel juga bisa mencemari saluran air di seluruh kota.

Minyak jelantah ini bisa disumbangkan, dengan sebelumnya didinginkan dan diletakkan ke dalam wadah. Ada beberapa titik yang membuatnya menjadi biodiesel yang lebih bersih. Biodiesel adalah bahan bakar nontoksin dan dapat terurai sehingga dapat menggerakkan mesin mobil sekaligus membantu lingkungan. Bisa dicek apjeti.com , belijelantah.com atau disini untuk info detail.

Cara lain yang dapat dilakukan agar sisa minyak tidak mencemari lingkungan adalah dengan menggabungkannya bersama limbah lain yang dapat menyerapnya.
Sekarang ini bahkan bisa dibuat DIY sabun dari minyak jelantah. Bisa di google dengan keywords “sabun dari minyak jelantah”.

Bekas pembalut dan diapers

Jaman dulu, ketika pembalut wanita hanya terbuat dari kapas, serat alami dan bahkan kain, darah menstruasi bisa dibilas dengan air, lalu sisanya dibuang ke tempat sampah. Sekarang, dengan inovasi butiran gel yang bisa mengembang, membilas pembalut bekas pakai adalah hal yang sungguh sulit, karena gelnya akan mengembang menyerap air. Belum lagi kimia yang dikandungnya, juga karena semuanya nyaman kita pun jadi malas membilas dan hanya membuang ke tempat sampah. Sayangnya belum banyak teknologi untuk memproses ini di TPA, maka beralihlah ke pembalut dan diapers yang reusable.

Tetra Pack

Tetra Pack sangat mendorong sampah yang berkelanjutan walaupun bahan dari packagingnya masih mengandung plastik, namun saat dikelola dengan baik, packaging bekas ini bisa diolah dan digunakan kembali. Cek disini

Drop box tetra pack adalah sebagai berikut

Lalu, bagaimana dengan pengganti alas plastik untuk sampah?

Saat sampah sudah dipilah dengan benar, makan kita tidak perlu lagi alas plastik. Kita bisa menggunakan koran, kardus, atau bahkan tanpa alas, langsung ke tempat sampahnya.

Pilahan Sampah

Minimal bisa ada 4 sampah/ wadah di rumah, yaitu wet, dry, kimia/elektronik, dan lainnya. Untuk kemudian dipilah lagi sebelum diolah sebagai berikut

  1. Wet untuk kompos
  2. Wet untuk ecoencyme dan/atau kaldu sayur
  3. Dry Paper
  4. Dry Glass
  5. Dry Plastic
  6. Dry Can
  7. Dry Tetra Pack
  8. Kimia atau elektronik

YUKKK bikin project rumah tangga. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi banyakk..

Bisa lihat ini, video yang sangat menarik mengenai TPA di Indonesia dan pentingnya sampah organik diolah dengan benar

Semoga bermanfaat yaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *