Bukan Sekedar “Tukang Sampah”

 

 

Setiap hari satu orang bisa menghasilkan sampah sekitar 0,7 kg. Bisa dibayangkan berapa jumlah sampah yang diakumulasi dalam satu wilayah, kita ambil contoh kota besar dengan jumlah penduduk 500 ribu – 1 juta jiwa. Rata-rata dalam sehari, satu wilayah tersebut menghasilkan kurang lebih 480 ton sampah. Mayoritas penduduk di kota besar mempunyai tingkat kesibukkan yang cukup tinggi, mungkin dalam hal melakukan pengelolaan sampah secara mandiri belum menjadi prioritas utama. Sedangkan jika dibiarkan tanpa pengelolaan setiap harinya, timbunan sampah akan semakin banyak dan berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan. 

Kondisi tersebut membuat kita tersadar betapa pentingnya garda depan untuk pengelolaan sampah dilingkungan kita. Meskipun kita harus menyadari bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari diri kita tapi tentunya ada bagian yang sangat berjasa dalam proses pengelolaan sampah selanjutnya. Dan garda terdepan pengelolaan sampah yang biasa kita kenal antara lain para pemulung atau tukang rongsok dan juga pasukan oranye. 

Banyak dari kita akan menyebut mereka dengan sebutan “tukang sampah” secara umum. Mereka adalah sosok yang sangat berjasa dalam terciptanya lingkungan yang nyaman, bersih dan terbebas dari sampah. Tugas mereka adalah mengambil dan memilah sampah yang setiap hari kita hasilkan hingga membersihkan dan memperbaiki saluran, jalan dan taman-taman. 

Source: ANTARA FOTO/Rahmad/foc/17

Para pemulung misalnya, mereka berjalan setiap hari dari pagi hingga sore dengan mendorong gerobak atau dengan kresek besar di punggungnya untuk mengambil sampah dari rumah ke rumah, di tempat umum hingga sampah yang berserakan di pinggir jalan. Mereka menempuh jarak hingga puluhan kilometer, dan mau tak mau mereka harus berjibaku dengan bau tak sedap dari sampah yang mereka pungut. Mereka juga mempunyai kontribusi yang besar dalam proses daur ulang sampah, suatu proses untuk mengolah sampah menjadi produk yang punya manfaat lebih. 

Para pemulung turut membantu memilah sampah agar tidak semua sampah langsung masuk ke TPS (Tempat Pembuangan Sampah) karena mereka akan membawa sampah yang didapat ke tempat pengumpulan sampah atau biasa disebut pengepul. Dari situ sampah akan dipilah dan ditimbang berdasarkan jenisnya. Kemudian para pengepul akan menyalurkan sampah dengan jenis yang bisa didaur ulang ke pabrik daur ulang seperti contohnya jenis plastik, kertas, besi dan alumunium.  Pemulung akan mendapatkan upah dari hasil menimbang jenis-jenis sampah tersebut, harga setiap jenis sampah pun juga berbeda-beda. Meskipun upah yang mereka terima tidak sebanding dengan resiko yang ada, mereka selalu terlihat bersemangat dan mencintai pekerjaannya. Mereka bisa disebut dengan pahlawan kebersihan sejati. 

Source: Okezone.com/Muhammad Sabki

Lalu kita kenal pasukan oranye atau PPSU (Penanganan Prasarana dan Sarana Umum), mereka mempunyai seragam kebanggaan yang berwarna orange dan bertugas untuk memastikan sarana dan prasarana di Ibu Kota dalam keadaan baik dan bersih. Mereka menangani permasalahan prasarana dan sarana taman kota, prasarana dan sarana saluran air, prasarana dan sarana jalan hingga bertanggung jawab akan kebersihan seperti menyapu trotoar, membersihkan sungai dari sampah, menangani pohon tumbang hingga memangkas ranting yang membahayakan pengguna jalan. Meskipun terlihat sepele namun pekerjaan pasukan oranye sangat membantu untuk menciptakan kenyamanan masyarakat.  Mereka secara tanggap dan sigap untuk sesegera mungkin memperbaiki kerusakan dan memastikan dalam keadaan yang baik. Pasukan oranye tersebar di setiap kelurahan yang ada di DKI Jakarta. Dengan adanya PPSU ini selain berdampak sangat baik terhadap lingkungan juga mampu menyerap tenaga kerja bagi masyarakat dengan KTP Jakarta untuk turut memberikan sumbangsihnya terhadap lingkungan. 

Namun ironisnya, dalam benak kebanyakan dari kita akan mendeskripsikan sosok tersebut sangat identik dengan sampah, kotor, bau tidak sedap dan hal-hal yang justru berkonotasi buruk. Padahal mereka yang telah menciptakan lingkungan terbebas dari sampah tapi justru mereka mendapat label sebagai “tukang sampah”. 

Pengertian “tukang sampah” sendiri adalah seseorang yang biasa melakukan sesuatu yang kurang baik yaitu membuang sampah. Arti dari sebutan tersebut sangat bertolak belakang dengan jasa yang mereka lakukan. Dengan hal tersebut masih pantaskan jika kita menyebut dengan istilah “tukang sampah” ? Tentu tidak. Justru orang yang membuang sampah sembaranganlah yang lebih pantas disebut “tukang sampah”. 

Banyak pilihan kata yang bisa kita sematkan kepada sang garda terdepan pengelolaan sampah, kita bisa menyebutnya dengan petugas kebersihan misalnya. Tentu dengan sebutan itu kita lebih bisa memaknai peran yang mereka lakukan dan tidak lagi melabeli dengan konotasi yang negatif. Yuk simak lebih jelasnya di live instagram dengan narasumber para garda terdepan dalam pengelolaan sampah

https://www.instagram.com/p/Cab9-y5pKdj/ 

Dari penjabaran tentang tugas dan fungsi petugas kebersihan sudah sepantasnya menjadi sosok yang harus kita hormati dan hargai keberadaanya, mungkin tanpa mereka kita tidak akan menemukan jalan yang bebas dari sampah, taman yang indah, saluran pembuangan air yang tidak berbau hingga lingkungan rumah yang bersih dan sehat. Mereka sangat menjadi garda depan dalam proses daur ulang #Ceritadaurulang dan menciptakan kehidupan yang lebih sehat dan lebih bersih, selain diri kita tentunya. Terima kasih petugas kebersihan!

source:

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

 

Zerowaste Blog
Zerowaste Shop
Zerowaste Event
Zerowaste Collab
Zerowaste Blogger
preloader