Zero Waste Pep Talk with DK Wardhani: Arti Zero Waste dan Tips Composting untuk pemula

Zero Waste Pep Talk with DK Wardhani: Arti Zero Waste dan Tips Composting untuk pemula

Dian Kusuma Wardhani atau yang lebih dikenal dengan DK Wardhani ini adalah seorang ibu rumah tangga pecinta lingkungan yang sudah sangat aktif sharing di sosial media mengenai gaya hidup cinta lingkungan. Wanita yang akrab dipanggil Mbak Dini ini sudah mempublikasikan berbagai macam buku untuk anak-anak. Baru-baru ini mengeluarkan buku mengenai Zero Waste yang berjudul #belajarzerowaste Menuju Rumah Minim Sampah. Bisa dipesan disini jika tertarik. Senang sekali rasanya semakin banyak buku bahasa Indonesia yang ditulis oleh orang Indonesia mengenai konsep hidup ini.

 

Daftar Isi buku Menuju Rumah Minim Sampah

 

Banyak sekali informasi-informasi bermanfaat yang mbak Dini bagikan di laman instagramnya. Mbak Dini berharap untuk mencakup lebih banyak lagi orang dan dapat juga membantu ibu-ibu rumah tangga untuk simplify konsep ini, membimbing serta mengajak keluarga untuk juga turut andil dalam hidup minim sampah. Hashtag #belajarzerowaste sekarang sudah mencapai lebih dari 5000 post! Terasa sekali perkembangannya dibanding ketika saya baru mulai mempelajari dan research mengenai zero waste di Indonesia. Di awal-awal tahun masih jarang ada yang membahas soal zero waste dan hashtag seperti ini masih sedikit. Orang-orang seperti mbak Dini inilah yang turut meramaikan dan menginspirasi cerita zero waste di Indonesia.

Photo Credit: DK Wardhani

Di dalam buku dan instagramnya, kita akan banyak sekali menemukan informasi mengenai alasan mengapa kita sebaiknya hidup minim sampah, bagaimana caranya, juga yang paling penting bagaimana mengajak keluarga dan sekitar untuk onboard dalam meminimalkan sampah. Salah satu hal yang paling sering mbak Dini bicarakan adalah mengenai kelola sampah dan membuat komposter. Melewati pengalamannya selama 5 tahun belakangan, mbak Dini sudah melewati ups and downs dalam kelola sampah terutama dalam membuat komposter. Di Zero Waste Pep Talk kali ini mbak Dini akan bercerita dan membagikan beberapa tips mengenai hidup minum sampah dan juga membuat komposter.

Apa alasan mbak Dini membuka kelas #Belajarzerowaste?

Saat mengajar di Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Brawijaya, saya yang mantan arsitek ini kemudian harus banyak belajar tentang ilmu tata kota termasuk persampahan, drainase, sanitasi lingkungan dan sebagainya. Saya mendapatkan banyak pengetahuan justru saat saya mengajar Studio Perencanaan Permukiman, di mana saya menjadi pembimbing untuk tim sektor persampahan. Juga saat saya membimbing Studio Perencanaan Kota. Setiap kali merencanakan permukiman atau suatu wilayah perkotaan (dengan proyeksi pertambahan penduduk dan pertambahan konsumsi dan kemudian timbulan sampah), mahasiswa harus merencanakan perluasan tempat pembuangan sampah sementara bahkan akhir, bahkan harus merencanakan lokasi baru. Dan mereka selalu kesulitan mencari lahan yang sesuai (setiap TPA memiliki aturan-aturan pendirian). Paradigma penata kota sampai saat ini adalah menyelesaikan bagian hilir sampah (TPA). Jarang yang menyentuh bagian hulu (rumah tangga). Saat mengajar di kampus saya mendapati bahwa persoalan sampah diselesaikan di hilir (TPA) bukan di hulu (rumah/individu) padahal akan lebih mudah jika persoalan sampah didekati dari sumbernya.

Kenapa saya membuka kelas? Bukan karena saya sudah sempurna atau lebih pintar, tapi karena saya berpikir harus ada yang memulai. Saya melakukan apa yang saya bisa, saat ini saya bisanya membuka kelas online ya itu yang saya jalani. Karena ini masalah kita bersama. Bumi kita ini amanah dan pinjaman yang harus kita kembalikan utuh kepada yang Maha Memiliki. Saya hanya berusaha memberikan awarness, bahwa bumi harus dijaga, dirawat dan disayangi. Karena bumi hanya 1 kita tidak bisa pindah ke planet lain. Tidak ada plan B.

There is no planet B

Sejak kapan mbak Dini memulai hidup minim sampah?

Selama kurang lebih 5 tahun ini. Saya memulai perjalanan itu dari membuat komposter dan biopori. Menjadi anggota bank sampah, membuat tempat sampah terpilah. Saya menerapkan ilmu di kampus, apa yang mudah untuk saya adopsi di rumah. Tapi belum sampai di taraf zero waste.

Saat mengajar di jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota saya belum berpikir untuk hidup minim sampah. Saya hanya merasa sedikit gundah karena saya sering kali memegang mata kuliah yang berisi tentang manajemen lingkungan, perencanaan permukiman, perhitungan timbulan sampah. Saat itu saya mengajarkan semuanya sebagai sebuah teori, belum merasuk dalam praktik keseharian. Saat rapat masih minum air kemasan plus sedotan, masih membawa nasi kotakan pulang dll. Saya pun merasa sudah selesai dengan membuang sampah pada tempatnya.

Karena saya harus banyak mencari bahan ajar, akhirnya saya menemukan sendiri fakta-fakta tentang sampah dan dampaknya. Saya pun masuk ke tahap berikutnya, mulai gemas melihat sampah bercampur akhirnya saya masuk ke fase memilah dan daur ulang. Saya berpikir bahwa memiliki ilmu harus juga menjadi amal.

Kesadaran mendalam baru muncul saat menulis buku-buku anak, menginisiasi kegiatan anak-anak yakni Sahabat Alam Cilik dan banyak bergaul dengan teman-teman yang peduli dengan isu lingkungan dan teman-teman praktisi zero waste, bahwa sampah harus diselesaikan dari hulu, dengan pendekatan pola konsumsi dan gaya hidup. Saya belajar bahwa recycling can not solve everything. Dan terbukalah mata saya bahwa persoalan sampah ini harus dicegah dari awal. Jangan sampai sampah itu terjadi.

Apa hal pertama yang mbak Dini lakukan saat memulai zerowaste?

Saya mulai dengan membawa kesadaran kemana pun saya pergi dan apa pun yang saya lakukan. Dan mulai dengan berucap ke diri sendiri sampahku tanggung jawabku. Saya menganggap ber-minim sampah ini sebagai suatu eksperimen, sehingga senang hati melakukannya.

Apa sebenernya mimpi mbak Dini dalam menjalani gaya hidup ini?

Mimpi besar saya adalah masalah sampah bisa selesai dari hulu. Dan anak-anak kita masih bisa menikmati apa yang nenek kakek kita nikmati dahulu (air bersih, udara segar, tanah yng subur dll). Saya juga pernah khawatir bahwa anak-anak kita nanti hanya akan kenal penyu, gajah, paus dari buku saja. Karena hewan-hewan itu punah akibat ulah kita. Mimpi saya juga kita bisa berdaya mengolah dan mencegah sampah, melepaskan diri dari konsumerisme dan industrialisasi, hidup lebih berdampingan dengan alam. Back to nature, kembali pada budaya yang ramah lingkungan.

Kalau untuk anak-anak dan suami mbak Dini, bagaimana mengajak mereka untuk menjalani hal yang mbak percayai?

Awal anak-anak homeschool, saya sengaja membuat ruang belajar hidup berkelanjutan untuk usia 7-11 th tiap 2 bulan sekali dengan narasumber teman-teman saya, berganti-ganti tema. Anak-anak jadi ikut merasa bahwa ini eksperimen yang seru. Nah karena rumah saya jadi basecamp maka suami pun jadi ikut tahu yg saya kerjakan, kadang saya minta masukan untuk materi. Kami juga suka nonton bareng film dokumenter seperti natgeo, bbc earth dll. Termasuk juga zero waste ala bea Johnson yang semuanya ada di youtube. Dari situlah kesadaran sekeluarga kita bangun. Sadar ini menjadi bagian keseharian, mengelola sampah rumah ya sama juga dengan setrika, cuci piring dll.

Anak-anak sudah terbiasa merawat kompos, masukin sisa dapur ke biopori. Suami mencuci plastik bekas sebelum setor ke bank sampah dan sejenisnya. Itu bukan hal terpisah dari hidup kami.

Keluarga kecil InsyaAllah sudah sejalan. Kalau keluarga besar ya saya share sedikit-sedikit misalkan video atau artikel, terutama liputan acara yg saya pernah jadi narasumber. Seharusnya zerowaste itu membuat hidup kita lebih simple sih. Alhamdulillah ibu saya sudah memilah sampah dan sudah bikin komposter. Bapak mertua saya sudah membuat biopori.

Mbak Dini dan keluarga kecilnya (Photo Credit: DK Wardhani)

Sesekali saya ngobrol juga sama ibu dan ibu mertua (kalau sama ibu mertua, suami yang ngobrol banyak). Untuk konsisten dan istiqomah, saya suka lihat kembali hadits-hadits yang mengajarkan untuk sayang lingkungan, niatkan jadi ibadah. Saya pernah membaca tentang orang yang alim (pencari ilmu) itu didoakan oleh semua mahluk sampai ikan-ikan di lautan, mungkin ini hikmah kalau orang berilmu itu seharusnya jadi rahmah bagi sekitar, orang berilmu nggak mungkin zolim dengan sengaja ke alam. Semua terjaga.

Rumah tangga adalah hulu, dan ibu adalah kunci. Ibu banyak mempengaruhi keputusan dalam sebuah rumah. Belanja apa, makan apa, beli apa. Sehingga jika ibu punya kesadaran lebih, ini akan menular kepada anak dan ayah.

Photo Credit: DK Wardhani (Seluas-luasnya hutan masih lebih luas alasan. Artinya: Kita selalu bisa saja membuat alasan. Sedangkan jika ada niat pasti ada jalan)

Banyak sekali pemula yang ingin tahu lagi soal mengkompos, apa tips-tips yang mbak Dini bisa berikan?

Saya dulu pun pernah gagal saat pertama membuat kompos. Dan sempat menyerah tapi akhirnya menemukan cara yang pas setelah bertemu teman-teman yang sevisi dan berbagi informasi. Banyak jalan menuju hidup minim sampah dan bisa dimulai dari arah mana saja yang nyaman untuk kita dan keluarga.

Membuat kompos terdengar rumit, sepertinya hanya “orang pertanian” saja yang bisa. Sisa organik bukanlah sampah melainkan adalah “makanan” bagi makanan kita. Ia bagian dari rantai makanan. Jika kita tidak mengompos, sebenarnya kitalah yang rugi. Karena tanah kita akan kehilangan nutrisi, dan makanan kita pun demikian. Ini adalah salah satu wujud dari rasa syukur kita kepada Allah atas penciptaan sistem siklus hidup yang sempurna, dan kita harusnya terlibat didalamnya. Apa yang dari tanah kembalikan lagi ke tanah. Nah ini tips untuk membuat komposter gerabah

Photo Credit: DK Wardhani

Bahan

  • Tanah dan pupuk kandang
  • Air cucian beras diinapkan 2 malam (sama dengan EM4 fungsinya)
  • Buah-buah dan sayur

Beberapa catatan untuk membuat kompos gerabah
1. Sampah organik dicincang sebelum dimasukkan. Sampah dapur bisa dimasukkan tiap hari. Jangan memasukkan kuah (tiriskan dulu).
2. Aduk sesekali selama 2x seminggu.
3. Panen bisa dilakukan setelah 2-3 bulan. Jika akan panen pisahkan 2/3 bagian di karung atau ember dan jangan diisi sampah dapur lagi, diamkan sampai semua terurai. Dan sisakan 1/3 untuk starter batch berikutnya. Kompos jadi berwarna kehitaman seperti tanah.
4. InsyaAllah tidak akan bau jika komposter jalan. Tanda bahwa ia jalan adalah suhunya hangat seperti tempe atau tape, baunya pun mirip.
5. Jangan kena hujan.
6. Jika ada belatung atau sebangsanya abaikan saja. Terus diaduk dan ditambah buah-buahan busuk (pepaya, nanas, buah2 manis, bisa beli di tukang buah dengan harga miring). Belatung adalah pengurai juga, jadi jangan kuatir.
7. Membuat kompos itu kita upayakan pada kondisi lembab (tidak basah dan tidak kering). Menyerupai tanah hutan hujan tropis. Itu sebabnya harus disiram air gula atau air leri. Dan ditutup (pakai daun kering atau plastik) supaya tidak habis menguap.

Prinsip komposter gerabah adalah mengikuti kearifan lokal masyarakat Indonesia yakni membuat juglangan, lubang di tanah untuk mengubur sampah.

Video lengkapnya bisa dicek disini

Jadi sekarang komposter apa saja yang ada di rumah?

Di rumah ada 2 gerabah, 1 drum biru dan 6 biopori (tapi ada 3 yang ambrol). Karena itu, sudah 5 bulanan nggak keluarin sampah ke tempat sampah.

Nextnya challenge apa yang mbak Dini ingin pelajari?

Salah satu PR penting adalah refuse (menolak). Ke depan pengen belajar bikin produk rumahan, personal care lebih banyak lagi dan belajar bercocok tanam.

Photo Credit: DK Wardhani
Photo Credit: DK Wardhani

Apa pesan-pesan mbak Dini untuk para pemula yang ingin berkompos?

Berani mencoba dan have fun dengan komposter. Punya komposter menurut saya menyelesaikan separoh masalah sampah rumah tangga. Untuk baca-baca lebih lagi bisa disearch di instagram #komposterdkwardhani

Dulu pas waktu kecil, ibu saya sering menasehati “jika ada kemauan (niat) InsyaaAllah akan ada jalan” karena sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan dan Allah bersama orang-orang yang sabar. – DK Wardhani

All credits go to Mbak DK Wardhani

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *