Misunderstanding

Misunderstanding

Beberapa hari kebelakang, saya lagi memperhatikan obrolan teman-teman yang bergabung di grup Whatsapp “Tampah Indonesia”. Obrolannya banyak sekali, tapi ada satu tema yang saya lagi pikirin terus: salah kaprah atau salah memahami gaya hidup zero waste atau minim sampah.

Oke, saya sebut zero waste aja ya seterusnya untuk mempersingkat, tapi semoga pada paham maksudnya.

Jadi gini, pertamanya my really good friend, mba Tyas sang empunya @sustaination, lagi bahas soal meningkatnya jumlah sampah yang disetorkan ke bank sampah. Ada salah satu bank sampah yang curhat ke Tyas kalau setoran sampah dari masyarakat semakin meningkat. Lalu, para penyetor sampah tersebut pun TIDAK memilah sampahnya. Bekas makanan dibuang begitu saja tanpa dibersihkan. Hasilnya? Sampahnya pun menjadi berjamur. Lalu SEMUA jenis sampah disetor, padahal tidak semua bernilai ekonomis dan dapat diterima oleh bank sampah tersebut. Akhirnya, mereka kerja double, memilah dan menyortir lagi serta mencuci sampah-sampah yang masih kotor itu. Yikes..

Tidak hanya itu. Banyak yang kini merasa bahwa “Ah bungkus ini dan itu toh diterima sama bank sampah atau pemulung. Jadi gak masalah dong gue beli? Toh nanti bermanfaat dan bisa bagi-bagi rejeki sama yang lainnya dengan sampah ini.”, Lalu, beralihlah semua ke disposable karena santai nantinya ada yang urus sampahnya. INTINYA, apapun, asal gak dikirim ke TPA. Ada cerita juga (dari sumber yang ga perlu saya sebutkan) kalau semenjak mengenal bank sampah, rekannya yang tadinya pakai air galon pun berubah jadi AMDK. Dengan alasan “Ah nanti bisa disetor ke bank sampah atau pemulung. Bisa bagi-bagi rejeki, bisa bermanfaat”.

NOOOOO, TIDAK SEPERTI ITUUU.

Selain itu, banyak dari para pelaku hidup zero waste, utamanya yang baru saja memulai, yang memaknai bahwa zero waste sudah cukup HANYA dengan membeli sedotan stainless steel, glass atau bambu, lalu menggunakannya setiap hari. Beli minuman? Gelasnya plastik gapapa, tutupnya plastik juga gapapa, udah pake sedotan reusable kok. Ketika diajak supaya next time bawa cup sendiri supaya ga pake cup plastik, lalu dibalas “Yang penting satu langkah dulu kan, mbak? Daripada enggak sama sekali?”. Emm… kita bahas di bawah ya.

Guys, sebelumnya mohon maaf kalau saya terkesan sinis, atau kesannya apa-apa serba salah. Tapi ini adalah hal yang perlu dan PENTING untuk kita bahas bersama. Supaya salah pemahaman ini gak berlanjut lebih jauh.

Pertama, zero waste lifestyle tidak berhenti hanya di plastik, packaging, sampah, dan lain-lainnya. Ada banyak sekali hal yang berkaitan dengan ini. Menurut pengalaman saya pribadi, gaya hidup ini tidak hanya mengurangi sampah yang saya hasilkan, tapi juga benar-benar merubah hidup saya dan bagaimana saya melihat segalanya. Gaya hidup zero waste ini merubah cara pandang saya terhadap barang, terhadap makanan, terhadap sesama manusia, terhadap proses perjalanan suatu barang atau makanan dari satu titik ke titik lainnya, terhadap semua imbas yang akan terjadi jika saya melakukan sesuatu, terhadap perekonomian dan perdagangan yang adil (fair trade), terhadap dampak sebuah industri terhadap manusia, dan banyak sekali hal-hal lainnya. Bahkan, menjalani hidup minim sampah membuat saya sebagai seorang Muslim menjadi lebih memahami cara kerja Allah di dunia ini, bagaimana Allah memberikan banyak sekali rahmat untuk hamba-Nya, dan bagaimana kita sering mengabaikannya. Yup, hanya dari mengurangi sampah.

Sebelum berjalan lebih lanjut, yes, saya paham banget kok karena yang penting dari sebuah kebiasaan adalah memulai dulu dari yang paling mudah dan melakukannya dengan konsisten. Saya sudah seringkali bercerita bahwa barang disposable pertama yang saya stop langsung penggunaannya adalah sedotan plastik. Namun saya tidak berhenti disitu. Saya usahakan untuk menghindari teman-temannya juga, yaitu gelas plastik, tutupnya, plastiknya, dan segala macamnya. Jika saya ingin beli suatu minuman dan saya lupa bawa cup, saya pesan untuk diminum ditempat atau bahkan gak beli sama sekali. Jika saya ga bawa sedotan, cukup dikokop dan minta sendok untuk aduk-aduk. Jika saya udah bawa “peralatan tempur” dan kedai penjual minuman menolak menggunakan cup saya pribadi (Yes it’s you guys, KOI dan Chatime. Please leave your #ProsedurKuno behind. It’s 2019 ffs), saya memilih untuk gak beli. Karena menurut saya, semuanya gak worth it hanya untuk 10 menit menikmati minuman dengan segala sampahnya yang masih akan ada sampe cucu saya punya cucu. So, no thank you. NEXT!

Sekarang, soal bank sampah. Sebelumnya ngaku deh, siapa sih yang sebelumnya aware sama bank sampah? Mereka sudah ada bertahun-tahun lamanya dan jarang sekali yang konsisten menyetor sampah, termasuk saya kok. Setelah memulai hidup zero waste, apakah saya lantas rajin ke bank sampah? Engga juga HAHAHAHA. Jujur aja, saya orangnya pemales. Belum lagi harus memilah sampah, terus dicuci, terus dijemur, terus dikumpulin dulu sebelum disetor. Aduh, ribet. Lebih mudah mengurangi daripada nyuci plastik. Motong sisa sampah organik aja saya suka misuh-misuh, maunya langsung kubur aja di halaman atau cemplung aja di komposter. Tapi efek positif sering motong ini membuat knife skill saya lebih baik lho! Jadi masih saya lakukan sepenuh hati.

Aduh melenceng.

Balik lagi ke bank sampah.

Jadi gini. Gaya hidup zero waste bukan berarti kita recycle/ daur ulang atau setor sampah lebih banyak ke bank sampah dari sebelumnya. Kalau konsep awamnya, kita mengenal 3R: REDUCE, REUSE, RECYLCE. Kalau menurut Bea Johnson di bukunya yang berjudul A Zero Waste Home, ada 5R: REFUSE, REDUCE, REUSE, RECYCLE, ROT. Keduanya sama, yaitu recycle atau daur ulang adanya di paling atau menjelang akhir. Jadi yang ada di paling awal apa? MENOLAK ATAU MENGURANGI. Yang pertama kita lakukan adalah MENOLAK membawa sampah lebih banyak lagi ke dalam rumah kita, serta MENGURANGI sampah yang dihasilkan agar tidak bertambah semakin banyak. Hal ini berarti kita harus merubah juga gaya hidup dan kebiasaan kita. Misal begini, kalian suka beli cemilan macam ciki-ciki gitu? Ya diganti, jangan beli yang dibungkus satu-satu, beralih ke beli curah di toko jajanan atau di pasar bawa toples, beli sebanyak atau sesedikit yang diperlukan. Rasanya menurut saya sih sama aja bahkan seringkali lebih enak. Atau bikin sendiri camilan kalau punya waktu luang sekalian berkreasi sama resep, atau alihkan ke jajanan yang lebih sehat macam ubi rebus, singkong rebus dicelup ke gula merah (ADUH INI ENAK BANGET TEMEN NGOPI SORE-SORE), atau telor rebus ditaburin garem ama lada. Aduh, banyak sekali jalan menuju Roma dan minim sampah, Alejandro!

Ketika kita berkomitmen untuk memulai gaya hidup minim sampah, tandanya kita juga harus mulai beradaptasi dengan banyak hal, termasuk melakukan hal-hal yang kita tidak terbiasa lakukan dan tentunya sembari memulai sebuah kebiasaan baru. Jadi, bukan berarti kebiasaan lama kita sama saja, lalu kita “hanya” menambahkan pemilahan sampah dan mengkompos dalam hidup kita.

Perlu diingat bahwa Bank sampah ada bukan sebagai pengganti tong sampah kita di depan rumah, lalu kita merasa senang tidak buang sampah ke TPA. Bukan berarti semua yang kita setor ke bank sampah atau recycling facility kayak Waste4Change akan diolah. Perlu diingat pula bahwa there’s no such thing as 100% zero waste, tidak mungkin kita tidak menghasilkan sampah sama sekali. Semua yang kita gunakan akan meninggalkan residu, sedikit atau banyak, dan bank sampah atau recycling facility pun tetap akan menghasilkan residu yang mau gak mau akan terbuang ke TPA. Jadi jika kita menyetor ke bank sampah, ingatlah bahwa sampah tersebut adalah sampah yang tidak atau belum bisa kita kurangi. Jadikan itu acuan sebagai progres kita kedepannya. Kalau bisa, sampah yang disetor harus semakin sedikit, begitupun sampah yang terbuang. Kalau urusan berbagi rejeki, ada baaaaanyak sekali cara berbagi rejeki, kok!

Sekarang, kita  bahas urusan “merasa cukup”.

I know, I know. Saya sadar, saya juga kok yang paling sering teriak “PROGRESS OVER PERFECTION! GAK PERLU SEMPURNA YANG PENTING BERPROGRES DAN KONSISTEN!” ke banyak follower saya yang cerita kalau mereka kewalahan mau mulai ngurangin sampah darimana. Tapi, bukan berarti kita hanya puas di satu langkah dan merasa langkah yang lain bisa menyusul kapan-kapan. Karena kita lagi bahas spesifik soal merasa cukup dengan sedotan berulang pakai, saya kasih data sedikit ya.

Menurut data yag dikutip dari Science Magazine edisi 13 Februari 2015 dan Seth Borenstein (Phys.org, 21 April 2018), setidaknya hampir 9 JUTA TON SAMPAH PLASTIK masuk ke lautan setiap tahunnya, dan sedotan plastik “hanya” 0,025% dari total sampah tersebut, atau “hanya” seberat sekitar 2000 (dua ribu) ton. Sisanya? Paling banyak adalah fishing net, lalu berbagai macam sampah plastik seperti pembungkus makanan, gelas plastik, kantong plastik, kemasan yang dibungkus plastik sachet, dan lain-lainnya. Tentu kita masih ingat kan sama paus sperma yang mati di Wakatobi bulan November lalu? Di dalam perut paus tersebut, ditemukan sekitar 6 kilogram sampah. Diantara sampah tersebut adalah GELAS PLASTIK sebanyak 115 gelas, lalu 25 buah kantong plastik, 4 botol plastik, dan berbagai macam potongan plastik lainnya. Jadi, cukupkah kita di stop sedotan plastik saja?

Tulisan saya ini gak bermaksud menjelekkan atau merendahkan siapapun yang lagi mencoba mengurangi sampah, yaaa. NEVER. Apalagi untuk menurunkan semangat. Justru, saya ingin semuanya merasa lebih semangat lagi ngurangin sampahnya. Karena emang…. maafin bahasa saya ya, emang manusia nih makhluk paling serakah, egois, dan paling merusak bumi. We are fucked up, people. Because of our own behavior for decades. Sekarang, kita juga yang merasakan akibatnya kan? Air, garam dan ikan kita sudah terkontaminasi microplastics. Plastik yang ada di lautan tidak akan hilang, mereka hanya akan semakin mengecil dan mengecil, lalu mengendap di dasar laut seperti bom waktu, suatu saat dia akan “meledak” dan ketika hal itu terjadi, oh please God forbid it’s really happening. Bahaya sekali efeknya!

Betul kalau apapun yang kita lakukan, akan memiliki dampak yang besar pada akhirnya. Tapi, jangan STOP di satu hal dan lantas merasa puas. Hauskan diri kita agar selalu bergerak menjadi lebih baik. Pahami lebih jauh soal gaya hidup minim sampah dengan perbanyak membaca dan menggali lebih dalam. Mulailah mengurangi apa yang bisa dikurangi, tahan diri dari kebiasaan konsumtif supaya sampah kita dapat berkurang. Jadikan bank sampah sebagai upaya mengurangi sampahmu, bukan menjadikan mereka sebagai “tong sampah yang lebih baik asalkan ga masuk TPA”. Jangan lupa bawa tumbler atau cup kemana-mana, yaaaa. Jadi kalau beli thai tea, sedotan reusable kamu ada temennya <3

P.S : Aku sangat terbuka bagi siapapun yang ingin bertukar pikiran. So please, hit me up through my DM @lesswastehousewife atau email ke healthier.aisyah@gmail.com. See you when I see you!

Sumber foto:

  1. Sperm whale in Wakatobi from WWF Indonesia
  2. Sperm whale infographic by Sea Shepherd Australia
  3. Plastic straw from Plastic Pollution Coallition
  4. Bank sampah from Indopos
Please follow and like us:
error

1 Comment

Submit a comment
  1. Manusia memang harus mengurangi gaya hidup konsumtifnya. Selama manusia hidup pasti akan ada kegiatan konsumsi, dari kegiatan konsumsi akan terus ada sampah dan limbah dari produksi pabrik juga yang berusaha memenuhi permintaan konsumsi manusia.
    Btw, saya menang Giveaway pantun di IG mbak @lesswastehousewife dan @bumigoods lho! Hehehe makasih ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *